Weka Ardiansyah


Guru PPKn

Kota Onde-onde, tahu kah kamu kota Onde-onde itu dimana??

Yupss….. benar banget. Itu adalah Kota Mojokerto, kota yang terletak kurang lebih 60 Km barat daya Surabaya. Biasanya kalo menempuh dengan kendaraan bermotor hanya butuh waktu 1,5 Jam perjalanan. Di Kota kecil seluas 16.47 km2 inilah aku terlahir sebagai anak kedua pada sabtu pahing tanggal 14 Mei 1988. Ayahku seorang guru SD, kakakku juga seorang guru Olahraga di Pondok pesantren Al-Amin Mojokerto sedangkan ibuku hanya ibu rumah tangga yang menjadi fokus pendidikan pertama bagi anak2nya.

 

 

Masa Kecil hingga remajaku, ku habiskan di kota kecil ini. Kota kecil yang di kelilingi kabupatennya yang syarat akan sejarah Kerajaan Majapahit, serta wisata Air Panasnya. Sekolah dasar kulalui di SDN Meri 1 Kota Mojokerto, SMP di SMPN 4 Kota Mojokerto, sedangkan masa SMA kuhabiskan di SMAN 1 Kota Mojokerto. Selama masa SMA, aku lebih suka ke dalam hal yang ilmiah, kuantitatif, punya rasa ingin tahu tentang gejala alam. Maka di masa penjurusan SMA kelas XII, aku masuk sebagai anak IPA kelas 1.

Lulus SMA pada tahun 2006, aku melanjutkan kuliah dan alhamdulillah diterima di Program studi Pendidikan Fisika, FMIPA, UNESA. Selama perkuliahan, pada tahun 2008 sampai 2010, aku pernah menjadi asisten praktikum fisika dasar yang bertugas membantu dosen dalam membimbing mahasiswa angkatan baru dalam praktikum fisika dasar seperti optik, pemuaian, viskositas, tabung resonansi, koefisien gesek, ayunan sederhana dan lain-lain. Selain aktif menjadi asisten praktikum, aku juga sering mencari uang tambahan dengan melakukan penelitian tindakan kelas yang di danai oleh LPPM Unesa Ketintang.

Pada bulan oktober tahun 2010, akupun mendapatkan gelar sarjanaku melengkapi nama belakangku menjadi “Weka Ardiansyah, S.Pd.”. Sambil menunggu Ijazah keluar, aku sudah mengajar di MTs NU berbek, Sidoarjo menggantikan kakak kelasku. Di sekolah ini, akupun hanya bisa bertahan satu semester, karena ada lowongan di sekolah negeri Surabaya. Ada dua lowongan pada saat itu, yaitu SMPN 1 dan SMPN 6. Di SMPN 1 aku menggantikan temanku yang akan kembali pulang mengabdikan diri ke kota asalnya Lamongan. Sedangkan di SMPN 6, aku menggantikan temanku yang mendapat beasiswa S2 di Malang. Namun, karna berjodohnya di SMPN 1 Surabaya, maka di terimalah aku sebagai guru honorer sekolah pada tanggal 1 April 2011 dengan jam mengajar full 30 JP mata pelajaran Fisika dengan kondisi saat itu Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI).

Seiring waktu, di SMPN 1 Surabaya ada guru pensiun, ada guru mutasi keluar dan ada guru mutasi masuk, berlakunya kurikulum 2013 mempengaruhi jam mengajarku. Dimana pada saat itu, satu guru IPA di mutasi keluar, datanglah 2 Guru PNS IPA. Yang berdampak pada jam mengajar IPA ku berkurang hingga pada tahun 2015 sudah tidak mengajar pelajaran IPA di kelas. Pada tahun 2015, aku mengajar sebagai guru IPS, karena guru IPSnya ada yang dimutasi keluar dan tidak ada penggantinya. Di tahun berikutnya 2016, Bu Agustien sebagai Guru PPKn akhirnya purna tugas. Dan Bu Siti Luthfiah di pindah tugas ke SMPN 55. Hal tersebut membuat tidak ada guru SMPN 1 dengan background lulusan PPKn untuk mengajar. Akhirnya pada tahun 2016 bergantilah aku menjadi guru PPKN hingga saat ini.

Meskipun aku sekarang mengajar PPKn, disekolah aku masih bisa mengajar Fisika ketika membimbing anak2 dalam persiapan menuju Sukses UNBK.

TEACHER TESTIMONIALS

What parents Say about our teacher.

Kerjasama Civitas Sekolah

Salah satu yang paling saya senangi dari sekolah ini adalah terbentuknya civitas sekolah yang bersama-sama memaksimalkan potensi setiap siswa sesuai bakat yang dimiliki.

Achmad Holil

Semua Siswa Jadi Berprestasi

Di sekolah ini, siswa diberi kesempatan menampilkan kemampuan melalui kesempatan yang diciptakan & didesain guru agar menghasilkan prestasi tingkat regional, nasional, ataupun global.

Dyah Sumiwi

Terus Belajar Demi Siswa Kekinian

Disela menyelesaikan tugasnya, guru-guru masih juga belajar "Bagaimana menyampaikan pelajaran ke siswa secara kekinian?" Tentu ini tidaklah mudah bagi guru. Tapi di sekolah inj, semua guru tetap semangat.

Achmad Holil

Prilaku Luhur di Zaman Maju

Dalam pembelajaran menggunakan digital classroom. Guru sekolah ini mampu memberikan hikmah permainan digital tersebut. Alhamdulillah, para siswa jadi berprilaku luhur yang sesuai kemajuan zaman.

Dyah Sumiwi