Guru Kesayangan Siswa SMPN 1 Surabaya, Supatmi, Matematika is Easy Yoo

Bagi sebagian siswa, matematika masih menjadi momok yang sulit ditaklukkan. Untuk itu, Supatmi berusaha memberikan metode pengajaran yang lebih mudah dipahami. Dengan demikian, matematika tidak lagi menjadi beban bagi anak didiknya.

BEL yang menandakan waktu istirahat selesai berbunyi. Anak-anak bergegas masuk kelas untuk mengikuti pelajaran berikutnya. Untuk kelas VII CI, saat itu adalah giliran mata pelajaran matematika. Bu Supatmi yang mengajar.

Setelah mengucapkan salam, Supatmi memulai pelajaran. Dia memberikan instruksi kepada murid-muridnya. ”Yang pakai kacamata maju ke depan,” serunya saat itu.

Kelas sedikit riuh karena murid berkacamata maju sesuai instruksi Supatmi. Belum habis rasa penasaran para murid, Supatmi memberikan instruksi kedua. ”Yang pakai jilbab juga maju,” imbuhnya.

Untuk kali kedua kali, kelas menjadi riuh. Kali ini lebih ramai daripada yang pertama. Berikutnya, Supatmi kembali memberikan instruksi. ”Murid yang pintar maju,” ucapnya. Kegaduhan tak dapat dibendung.

Mereka bingung siapa yang paling pintar. Kalau maju, nanti dikira narsis. ”Kenapa tidak ada yang maju?” tanya Supatmi.

”Malu, Bu,” jawab sebagian murid. Mendengar jawaban muridnya, Supatmi tersenyum. Kemudian, dia menerangkan apa yang sudah diinstruksikannya tadi.

Di depan ruangan itu ada dua kelompok murid. Berjilbab dan berkacamata. Dua hal tersebut mudah diidentifikasi.

Rupanya, Supatmi ingin memberikan pemahaman kepada muridnya tentang materi himpunan bagian dengan peragaan dua kelompok murid tersebut.

Saat meminta murid pintar maju, sebenarnya dia sedang mengajarkan bahwa hal itu adalah contoh bukan himpunan bagian. Dengan dua contoh tersebut, Supatmi kemudian meminta muridnya membuat definisi.

Dalam menyampaikan materi, Supatmi memang suka menggunakan hal-hal di sekitar sebagai alat peraga. Sebab, menurut dia, hal tersebut lebih mudah dipahami para siswa.

Mereka biasanya kesulitan jika diterangkan berdasar definisi teori di buku paket. Dengan memahami definisi secara benar, para siswa diharapkan lebih mudah menghadapi soal-soal.

Bukan hanya yang berisi angka dan rumus, melainkan juga soal cerita. ”Kalau masuk soal cerita, biasanya mereka langsung bingung. Tapi, kalau sudah paham materi, tidak bingung lagi,” terang perempuan kelahiran Tulungagung, 5 Maret 1968, itu.

Tidak hanya memberikan contoh berdasar keadaan di sekitar, Supatmi kerap menyelipkan ilmu lain di dalam pelajarannya. Di antaranya, pendidikan karakter dan agama. Misalnya, ketika materi tentang perhitungan waktu.

Supatmi menyisipkan pelajaran bahwa tidak ada manusia yang tahu sampai kapan waktunya di dunia. Karena itu, kesempatan yang ada harus dimanfaatkan untuk berbuat kebaikan.

Murid-murid termenung sejenak saat mendengarkan penjelasannya. Untuk mengasah kemampuan anak-anak dalam pemahaman ilmu matematika, Supatmi kerap memberikan soal latihan.

Tapi, soal-soal itu bukan pekerjaan rumah (PR). Hanya soal latihan. Tujuannya meningkatkan kemampuan. Kalau tidak bisa mengerjakan, soal bisa dibahas di sekolah.

”Kalau PR, mereka terbebani karena mindset-nya pekerjaan itu harus selesai. Entah bagaimanapun caranya, mau mengerjakan sendiri atau menyontek teman,” papar alumnus pendidikan matematika IKIP Negeri Surabaya.

Kalau latihan, lanjut dia, setidaknya para murid berusaha mengerjakan. Dia malah senang kalau ada yang jujur bilang tidak bisa. Asalkan, siswanya sudah mengerjakan.

Supatmi memang suka kepada murid-murid yang jujur. Bahkan, terhadap mereka yang tidak mengerjakan tugas sekalipun. Menurut dia, setiap anak pasti punya alasan kenapa tidak mengerjakan soal latihan.

Setelah mendengarkan penjelasan dari muridnya, dia membantu mereka untuk menyelesaikan soal-soal tersebut. Bagi guru yang diangkat sebagai PNS sejak 2007 itu, mengajar sudah menjadi panggilan hidupnya.

Karena kompetensinya termasuk baik, dia terpilih sebagai instruktur nasional (IN) guru pembelajar, IN kurikulum 2013, IN sekolah satu atap, serta 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal).

Meski kesibukan kerap menyita waktunya, Supatmi tetap tidak melupakan pekerjaan utamanya. Jika akan meninggalkan kelas dalam waktu lama, dia menjadwal ulang silabusnya.

Selain itu, dia menyediakan waktu di luar kelas bagi siswa yang ingin bertanya. Keinginan Supatmi cukup sederhana. Dia puas melihat murid-muridnya bisa memahami pelajaran yang diberikan.

Selain itu, agar matematika tidak lagi menjadi beban bagi para siswa. ”Matematika itu sebenarnya mudah asal banyak mencoba dan sering berlatih,” tegasnya. Matematika is easyyoo!! (ant/c6/nda/sep/JPG)

 

MINGGU, 06 NOV 2016 17:36 | EDITOR : ADMIN JAWA POS

SUMBER : http://www.jawapos.com/read/2016/11/06/62559/guru-kesayangan-siswa-smpn-1-surabaya-supatmi-matematika-is-easy-yoo-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *